Dalam aksi sembilan bulan lalu itu mereka menuntut agar petinggi negara itu menggelar pemilihan umum yang bersih dan adil. Demonstrasi berakhir rusuh ketika gas air mata menghujani para demonstran. Kerusuhan terjadi setelah pemimpin aksi Hatta Ramli berseru melalui pengeras suara, "Jika Anda punya kaos kuning, ini saatnya untuk memakainya." Kaos kuning bertuliskan "Bersih 2.0" adalah simbol perlawanan kediktatoran Malaysia.
Aksi serupa terulang pada Sabtu 28 April 2012, di pusat kota Kuala Lumpur. Malaysia kembali menguning. Lebih dari 25.000 orang berdemonstrasi menuntut pemilu bersih. Kata "Bersih", diteriakkan berkali-kali. Meski dilarang memasuki Lapangan Merdeka, mereka berusaha mendekat ke simbol penting di negeri itu. Aksi itu juga dicegat barikade kawat berduri dan ribuan polisi yang dilengkapi meriam air dan gas air mata. Bentrok pun tak terelakkan. Botol-botol berterbangan dari arah pendemo, dibalas tembakan gas air mata oleh aparat.
Demonstran kocar-kacir setelah aparat menyemburkan meriam air dan menembakkan gas air mata tanpa henti selama 10 menit. Polisi mengambil langkah itu saat pengunjuk rasa menerobos barikade dan mencoba memasuki lapangan. Sejumlah media menyebut jumlah demonstran mencapai 50.000, 80.000, bahkan 100.000, terbanyak setelah aksi demo "Reformasi" pada tahun 1998 lalu memprotes pemerintahan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.
Protes kali ini ditujukan pada Perdana Menteri Najib Razak, yang menurut spekulasi berniat menyelenggarakan pemilu awal Juni mendatang. Para aktivis menuduh bahwa Komisi Pemilihan bias. Mereka juga menuding ada kecurangan dalam daftar pemilih. Pendemo juga meminta agar pemilu ditunda sampai tuntutan perubahan dilaksanakan oleh pemerintah.
Unjuk rasa ini secara politis membawa kerumitan bagi Najib, yang sejak tahun lalu menampilkan dirinya sebagai seorang reformis, dengan meluncurkan kampanye mengubah peraturan yang disebutnya sebagai "demokrasi yang baik".
"Sekelompok pengunjuk rasa mencoba memicu konfrontasi kekerasan dengan polisi," kata Menteri Dalam Negeri Hishammuddin Hussein dalam pernyataan tertulis seperti dilansir Businessweek.com.
Anwar Ibrahim dituding
Polisi Malaysia melepaskan 471 demonstran yang ditangkap, Minggu 29 April 2012. Komisaris Asisten Polisi Ramli Mohamed Yoosuf mengatakan, massa yang tumpah berunjuk rasa kemarin mencapai 40.000 sampai 50.000 orang. Dalam aksinya, massa menuntut reformasi dan pemilu bersih.
Perdana Menteri Najib menyebut, aksi demonstrasi massa dimotori aktivis oposisi itu berupaya merusak citra pemerintah. Najib menilai aksi demonstran tidak murni menuntut pemilu bersih, tapi ada misi lain. "Mereka tidak peduli tentang pemilu yang adil dan bersih. Ini semua tentang politik dan mengambilalih pemerintahan," kata Najib seperti dikutip kantor berita nasional Bernama.
Front Nasional yang kini dipimpin Najib telah memerintah Malaysia sejak merdeka dari Inggris pada tahun 1957. Front Nasional mengalami kinerja terburuk dalam pemilu 2008, yakni ketika kehilangan lebih dari sepertiga kursi parlemen. Kekalahan Front Nasional terjadi di tengah keluhan masyarakat tentang korupsi dan diskriminasi rasial.
Pimpinan oposisi Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim tak ketinggalan turun ke jalan. Bahkan harian Mingguan Malaysia dan koran berbahasa Inggris di Malaysia, Star, menyebut Anwar disebut harus bertanggungjawab dalam demo yang berakhir rusuh.
Anwar dan Wakilnya Azmin Ali disebut turut menghasut demonstran untuk menembus barikade polisi. Saat bentrok terjadi, Anwar baru saja meninggalkan lokasi kerusuhan. Setelah itu, Anwar disebutkan menghilang. Hingga kini, belum ada kabar apakah Anwar turut yang ditahan dan dibebaskan.
Pada aksi sembilan bulan lalu, kebrutalan aparat juga membuat sejumlah demonstran luka-luka. Termasuk korban luka adalah Anwar Ibrahim, dan sekitar 1.667 pendemo ditangkap aparat.(np)



0 komentar:
Posting Komentar