![]() |
| Barrack Obama Sukses menggunakan Facebook |
.
BnewS - Penyebaran kabar bohong jelas bahaya, namun yang lebih
berbahaya adalah fakta karangan hasil "pelintiran" yang disebar melalui
media massa dan media sosial. Seolah realistik namun sejatinya
fakta-fakta itu mendoktrin ke arah tertentu pemilih dalam kampanye
"Ini yang lebih bahaya ketimbang black campaign,
jika itu yang Anda maksud," kata guru besar ilmu politik University of
Kansas, Prof Burdett A Loomis PhD, di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, @america, di Jakarta, Selasa.
Dia
memberi pandangannya melalui konferensi jarak jauh tentang peran media
massa dan media sosial dalam kampanye dan Pemilu Amerika Serikat.
Sebagai studi kasus tentang efektivitas kedua media itu dalam kemenangan
Barack Obama pada 2008.
Amerika Serikat akan
menentukan presiden ke-45-nya pada November nanti sebagaimana Indonesia
pada September 2014. Amerika Serikat lebih dulu memakai media massa dan
media sosial dalam strategi kampanye dan pemenangan pemilu para
kandidat, sementara Indonesia baru mulai 1999.
Di
Indonesia, "perang" kampanye mengembuskan isu-isu negatif terhadap
rival kandidat dalam berbagai pemilihan, belum semarak di negara-negara
lain. Akan tetapi pembunuhan karakter melalui media sosial sudah mulai
menggejala, terutama atas sosok-sosok tertentu yang berujung pada
penyelesaian di pengadilan.
Menurut Loomis,
fakta karangan hasil "pelesetan" itu dikembangkan berdasarkan berbagai
data yang valid namun dipilih menurut kepentingan tertentu si pemilik
agenda. Di Amerika Serikat, isu yang diembuskan menyentuh kepentingan
ekonomi dan politik merupakan hal yang paling sering dipertimbangkan
pemilih.
Apalagi sejak 2009 terjadi gelombang
demi gelombang kemacetan perekonomian domestik Amerika Serikat. Tingkat
pengangguran usia produktif saat ini mendekati semblan persen
--tertinggi dalam empat periode kepemimpinan negara itu-- sekalipun
terdapat beberapa kemajuan penting.
Barack
Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat yang menduduki kursi
kepresidenanannya disumbang keunggulan facebook, bekerja ekstra keras
untuk mengatrol hal ini.
Satu hal pokok yang
menyumbang ke arah itu adalah ketetapannya menarik mundur pasukan
Amerika Serikat dari ISAF di Afghanistan. Ratusan miliar dolar Amerika
Serikat dihabiskan sejak pasukan itu hadir di sana. (*) Sumber Antaranews.com




0 komentar:
Posting Komentar